Dzikir Tegalsaren, Tradisi Spiritual Khas Desa Tegalsari Ponorogo

  • Jan 15, 2026
  • Admin
  • Religi, Umum, Tradisi Tegalsari, Budaya

Dzikir Tegalsaren merupakan salah satu tradisi spiritual yang hingga kini masih lestari di Kompleks Makam dan Masjid Jami’ Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan dzikir ini menjadi ciri khas masyarakat Tegalsari dan para jamaah yang datang untuk beribadah sekaligus melestarikan warisan keislaman yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Dzikir Tegalsaren biasanya dilaksanakan pada momen-momen tertentu, seperti tradisi megengan menjelang bulan suci Ramadan, setelah pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha, peringatan hari-hari besar Islam, serta haul akbar Kyai Ageng Muhammad Besari. Pada waktu-waktu tersebut, Masjid Jami’ Tegalsari dan kompleks makam dipenuhi jamaah dari berbagai daerah.

Keunikan Dzikir Tegalsaren terletak pada irama nadanya yang khas, yang dikenal dengan sebutan nada Tegalsaren. Irama ini membedakan dzikir tersebut dari dzikir pada umumnya dan menjadi identitas spiritual masyarakat Tegalsari. Nada Tegalsaren merupakan warisan berharga dari pendiri Desa Tegalsari, Kyai Ageng Muhammad Besari, seorang ulama besar yang berperan penting dalam sejarah penyebaran Islam di Ponorogo.

Selain pada kegiatan keagamaan besar, nada Tegalsaren juga kerap digunakan dalam peringatan wafatnya seseorang, seperti tahlilan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, hingga haul orang yang telah meninggal dunia. Penggunaan nada Tegalsaren dalam momen tersebut menambah suasana khidmat dan sakral, sekaligus menjadi bentuk doa bersama yang sarat nilai spiritual dan tradisi lokal.

Bagi masyarakat Tegalsari, Dzikir Tegalsaren bukan sekadar amalan ibadah, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan, menjaga nilai-nilai Islam Nusantara, serta merawat sejarah dan jati diri desa. Hingga kini, tradisi ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan spiritual dan budaya Tegalsari.