Keraton Surakarta Gelar Ruwahan/Sadranan di Makam Tegalsari Ponorogo Jelang Ramadan

  • Feb 09, 2026
  • Admin
  • Religi, Umum, Sejarah, Budaya

Keraton Surakarta Hadiningrat kembali melaksanakan tradisi rutin Ruwahan atau Sadranan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan di sejumlah makam wilayah Kabupaten Ponorogo, Ahad (08/02/2026). Salah satu lokasi yang menjadi tujuan utama ziarah yakni Makam Kyai Ageng Muhammad Besari yang berada di kompleks Masjid Jami’ Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo.

Tradisi ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, namun juga sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus ikhtiar membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci ramadhan. Kehadiran keluarga besar Karaton Surakarta turut menegaskan kuatnya ikatan sejarah dan spiritual yang terjalin antara Ponorogo dan tradisi leluhur yang terus dijaga hingga kini.

Dalam kegiatan tersebut hadir sejumlah tokoh keluarga Karaton Surakarta, di antaranya KPH Eddy S. Wirabhumi, GKR Koes Murtiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng, GKR Ayu Koes Indriyah, serta keluarga besar Kasunanan Surakarta lainnya.

Pantauan di lokasi, rombongan tiba di kawasan Tegalsari dan langsung menuju area makam. Prosesi ziarah berlangsung khidmat dengan pembacaan tahlil, doa bersama, serta tabur bunga di pusara Kyai Ageng Muhammad Besari yang dikenal sebagai guru dari Pakubuwono II. Sosok Kyai Ageng Muhammad Besari juga dikenal memiliki hubungan erat dengan Kasunanan Surakarta, termasuk melalui garis keluarga Kanjeng Kyai Bagus Hasan Besari.

GKR Koes Murtiyah Wandansari atau Gusti Moeng menegaskan bahwa tradisi Ruwahan/Sadranan merupakan momentum penting untuk menata batin serta menguatkan kesadaran spiritual masyarakat menjelang Ramadan.

“Sadranan Mapak Wulan Poso ini adalah laku budaya sekaligus laku batin. Kita diajak eling, membersihkan rasa, serta mendoakan para leluhur agar perjalanan spiritual menuju bulan suci berjalan dengan hati yang bening,” tutur Gusti Moeng.

Tidak hanya di Tegalsari, rombongan Keraton Surakarta juga melanjutkan rangkaian ziarah ke sejumlah lokasi lainnya di Ponorogo. Di antaranya Makam Raden Bhatara Katong sebagai pendiri Kabupaten Ponorogo, Makam Raden Jayengrono di wilayah Pulung, serta ditutup ke Petilasan Sunan Kumbul di Kecamatan Sawoo.

Lebih lanjut, Gusti Moeng menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi adat merupakan tanggung jawab bersama.

“Budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dilakoni. Selama tradisi ini dijalankan dengan niat yang tulus, maka ia akan terus hidup dan memberi arah dalam kehidupan bermasyarakat,” imbuhnya.

Selain sebagai agenda spiritual, kegiatan ini juga mempererat hubungan kultural antara Karaton Surakarta dengan Ponorogo yang memiliki ikatan sejarah panjang sejak masa kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Melalui tradisi Ruwahan, masyarakat diajak menata niat, mempererat silaturahmi, serta meneguhkan jati diri budaya menjelang datangnya bulan suci Ramadan.