Malam Jumat Kliwon Ribuan Masyarakat dan Santri Memadati Desa Tegalsari Ponorogo
- Jun 12, 2026
- Admin
- Religi, Umum, Tradisi Tegalsari, Budaya
Malam Jumat Kliwon memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Jawa, termasuk di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Pada malam yang istimewa ini, kawasan Masjid Jami' Tegalsari dan makam Kyai Ageng Muhammad Besari dipenuhi oleh peziarah dari berbagai daerah yang datang untuk berdoa, membaca tahlil, dzikir, serta mengenang perjuangan para ulama yang telah menyebarkan Islam di tanah Jawa. Tegalsari yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan pesantren dan keilmuan Islam di Nusantara kembali menunjukkan denyut kehidupan religiusnya yang begitu kuat setiap Malam Jumat Kliwon.
Sejak selepas Magrib, suasana di Masjid Jami' Tegalsari mulai dipenuhi jamaah. Selain melaksanakan salat Magrib berjamaah, para santri dan peziarah juga mengikuti berbagai amalan ibadah, seperti salat-salat sunnah, pembacaan wirid, dzikir, dan doa bersama. Banyaknya jamaah yang hadir membuat saf salat tidak hanya memenuhi ruang utama masjid, tetapi juga meluas hingga serambi dan halaman masjid. Pemandangan ratusan hingga ribuan jamaah yang khusyuk beribadah menjadi salah satu ciri khas suasana Malam Jumat Kliwon di Tegalsari sebelum memasuki rangkaian kegiatan berikutnya.
Selepas Isya, suasana semakin ramai. Para peziarah silih berganti memasuki area makam Kyai Ageng Muhammad Besari untuk memanjatkan doa dan mengirimkan Al-Fatihah kepada para ulama dan leluhur. Di tengah suasana malam yang tenang, lantunan ayat suci Al-Qur'an, dzikir, dan doa terdengar mengalun dari berbagai sudut kawasan religi Tegalsari, menciptakan suasana yang khusyuk dan penuh keteduhan.
Keramaian Malam Jumat Kliwon di Tegalsari semakin terasa dengan hadirnya ribuan santri Pondok Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo. Kegiatan mujahadah dan dzikrul ghafilin yang menjadi tradisi rutin pesantren tersebut menghadirkan lautan santriwan dan santriwati yang memadati area Masjid Jami' Tegalsari hingga kompleks makam Kyai Ageng Muhammad Besari. Dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan, para santri datang untuk mengikuti rangkaian doa, dzikir, dan mujahadah bersama sebagai bagian dari pembinaan spiritual yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Pemandangan ribuan santri yang memenuhi serambi masjid, halaman, jalan-jalan desa, hingga area sekitar makam menjadi ciri khas Malam Jumat Kliwon di Tegalsari. Bagi para santri Darul Huda Mayak, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas bulanan, melainkan sarana untuk memperkuat hubungan spiritual, meneladani perjuangan para ulama, serta menjaga mata rantai keilmuan yang telah diwariskan oleh para masyayikh terdahulu.
Hingga kini, Malam Jumat Kliwon di Tegalsari tetap menjadi salah satu momen religius yang paling dinantikan. Perpaduan antara tradisi ziarah, amalan ibadah, doa bersama, dan kehadiran ribuan santri menjadikan Tegalsari sebagai pusat kegiatan spiritual yang hidup sepanjang malam. Di bawah cahaya lampu Masjid Jami' Tegalsari, doa-doa terus dipanjatkan, dzikir terus dilantunkan, dan warisan perjuangan Kyai Ageng Muhammad Besari terus dijaga oleh masyarakat, peziarah, serta para santri yang datang dari berbagai penjuru.
Ketika malam mulai menyelimuti Tegalsari, masjid, makam, dan jalan-jalan desa dipenuhi langkah para pencari berkah ilmu dan doa. Malam Jumat Kliwon pun menjadi saksi hidupnya tradisi spiritual yang terus terjaga dari generasi ke generasi di bumi para ulama.