Bukan Perayaan: 9 Rajab sebagai Pengingat Wafat dan Warisan Berharga Kanjeng Kyai Bagus Kasan Besari
- Dec 30, 2025
- Admin
- Religi, Umum, Sejarah
Hari ini, Selasa Legi, 9 Rajab 1447 H, menjadi penanda untuk kembali mengingat wafatnya Kanjeng Kyai Bagus Kasan Besari bin Kyai Ilyas bin Kyai Ageng Muhammad Besari. Beliau kondur-dalem pada Kamis Legi, 9 Rajab 1278 H, yang bertepatan dengan 9 Januari 1862 M, sekitar pukul setengah delapan malam. Kesamaan tanggal Hijriah ini menjadi pengingat penting lintas generasi, bahwa telah berlalu 169 tahun Hijriah sejak kepergian salah satu tokoh sentral Tegalsari dan Ponorogo tersebut.
Laporan pemerintah Hindia Belanda mencatat bahwa Kanjeng Kyai Bagus Kasan Besari wafat dalam usia 100 tahun (“Kjahi Bagoes Kasan Besarie in den ouderdom van 100 jaren”). Dengan demikian, beliau diperkirakan lahir pada 1762 M, dan masih berusia sekitar 10 tahun ketika sang kakek, Kyai Ageng Muhammad Besari, wafat pada 1773 M.
Jenazah beliau dimakamkan pada keesokan harinya, 10 Januari 1862, sekitar pukul 11.00 siang, di belakang Masjid Tegalsari, tepat di sisi barat makam ayahandanya, Kyai Ilyas (w. 1800). Pemakaman tersebut dihadiri ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat pemerintahan, para kyai dan santri, hingga masyarakat umum. Arsip mencatat kurang lebih 3.000 orang turut mengiringi prosesi tersebut. Pada masa itu, Tegalsari dikenal sebagai desa terpadat di Kabupaten Ponorogo dengan jumlah penduduk mencapai 1.679 jiwa.
Kanjeng Kyai Bagus Kasan Besari mulai menjabat sebagai lurah-kyai perdikan-pesantren Tegalsari pada tahun 1820. Jabatan ini diembannya setelah kakaknya, Kyai Yahya, diturunkan dari kedudukannya oleh Kepala Pengulu Keraton Surakarta, Tafsir Anom, atas nama Sunan Pakubuwana IV (bertakhta 1788–1820). Sebelumnya, beliau telah lama mengabdi sebagai naib-pengulu Tegalsari bersama adik iparnya—lain ibu—Kyai Mukibat.
Wafatnya Kanjeng Kyai Bagus Kasan Besari membawa duka mendalam bagi Tegalsari dan Ponorogo. Dalam laporan resmi Bupati Ponorogo yang juga merangkap Bupati Sumoroto, R.M.A.A. Tjokronegoro—putra beliau sendiri—kepada Residen Madiun D.C. Noordziek tertanggal 21 Januari 1862, disebutkan bahwa beliau wafat pada malam Jumat, serta besarnya jumlah keluarga, santri, dan masyarakat yang hadir. Laporan tersebut juga mencatat adanya sedekah dan shalawat yang diberikan kepada para santri dan jamaah sesuai adat Islam saat itu.
Pada masa kepemimpinannya, Tegalsari dikenal sebagai perdikan-pesantren yang bersifat egaliter. Semua lapisan masyarakat, tanpa memandang usia dan latar belakang agama, diperkenankan belajar di Tegalsari secara gratis (geheel vrij). Keterbukaan ini tercermin dari catatan bahwa Johann Friedrich Carl Gericke (w. 1857), seorang pakar bahasa dan sastra Jawa sekaligus penerjemah Injil asal Jerman–Belanda, pernah belajar di Tegalsari selama enam bulan pada tahun 1829.
Mengingat hari wafat beliau pada 9 Rajab ini bukanlah sebuah perayaan, melainkan upaya menjaga ingatan kolektif atas peran besar Kanjeng Kyai Bagus Kasan Besari dalam sejarah Tegalsari, pesantren, dan peradaban keilmuan di Ponorogo—sebuah jejak yang tetap hidup meski telah berabad lamanya.