Syiir Ujud-ujudan, Warisan Berharga Kiai Ageng Muhammad Besari Tegalsari Ponorogo
- Aug 11, 2023
- Admin
- Tradisi Tegalsari
Wujud mesti ana Allah mohal yen ora ana
Qidam dihing Allah, Allah mohal yen kang dihing ana adam
Baqa’ langgeng Allah, Allah mohal yen kenaha rusak
Mukholafatul lilkhawadisi berbeda kelawan kang anyar, Allah mohal yen padahe kelawan kang anyar
Walqiyamu binafsihi jumeneng Allah kelawan dewe, mohal jumenengno Allah kelawan liyane
Wahdaniyah asa, Allah mohal yen lara tetelu
Demikian sepenggal lalaran atau syair yang biasa dikenal dengan Syi'iran Ujud-ujudan, sebuah warisan leluhur di Masjid Jami' Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Tradisi pujian tembang Jawa Syi'ir Ujud-ujudan, dibaca dengan cengkok Jawa lokal khas Tegalsari.
Syi'iran Ujud-ujudan ini dipercaya kuat oleh masyarakat Tegalsari adalah warisan otentik dari Kiai Ageng Muhammad Besari, pendiri Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari pada tahun 1700-an. Ujud-Ujudan selalu rutin dibaca di hari Jum'at ba'da shalat Subuh.
Menurut Imam Masjid Jami' Tegalsari, KH. Syamsuddin, Syi'ir Ujud-ujudan ini sudah dari turun temurun bahkan di salah satu kitab kuno yang tersimpan di rumahnya, tertulis jelas syi'iran ini ciptaanya Mbah Ageng Besari. "Warisan mbah-mbah dulu tetap ada walau zaman berganti menjadi modern seperti sekarang ini," katanya, Jumat (11/8/2023).
Syiir yang dilantunkan dengan tembang Jawa itu tergolong langka. Tidak semua masjid membacakan tembang yang biasa disebut ujud-ujudan tersebut.
Menurut salah seorang Muadzin tertua di Masjid Jami' Tegalsari, Ramlan atau yang biasa disapa Mbah Lan, dia sudah sejak muda menembangkan syi'iran tersebut. "Sebenarnya saya tidak hafal teks syi'iran ini. Tapi karena kebiasaan, kalau sudah berkumpul kan bareng-bareng melantunkan, akhirnya jadi hafal dengan sendirinya," jelasnya.
Syiir Ujud-ujudan ini rutin dibaca setiap hari Jumat setelah shalat Subuh. Isi dan makna Ujud-ujudan `merupakan bentuk ungkapan pujian kepada Allah SWT dan mengagungkan serta mengisahkan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW dengan mengharap kemuliaan dan syafaat beliau di akhir zaman tersebut.
“Dengan adanya lantunan syiir yang bernafas jawa di masjid Tegalsari, saya merasakan suasana dan situasi berbeda di desa tegalsari. Nuansa religi di masa lampau terasa sakral. Dan syiir ini hanya dapat didengar di Masjid Tegalsari dan tidak ditemukan di daerah lain," Kata Siti Mashitoh salah satu jamaah lingkungan masjid Tegalsari
Selain untuk mengenang Kiai Ageng Muhammad Besari saat masih hidup, Syiir ini juga memberikan dampak bagi warga dalam pengalaman religiusnya.
Para warga di desa Tegalsari juga berupaya agar syiir peninggalan Kiai Ageng Muhammad Besari ini tidak punah dan hilang begitu saja, salah satunya dengan membekali dan memberikan waktu kepada generasi muda untuk ikut serta dalam kegiatan pembacaan syiir ini.