Tegalsari dan Keraton Surakarta: Punya Jejak Sejarah Keilmuan, Spiritualitas, maupun Kekerabatan.
- Nov 05, 2025
- Admin
- Umum
Wafatnya Sinuhun Sri Susuhunan Pakubuwana XIII menjadi momen duka mendalam bagi masyarakat Jawa, termasuk kalangan pesantren dan pewaris budaya di Ponorogo. Di tengah suasana belasungkawa, masyarakat Tegalsari mengenang kembali hubungan sejarah panjang antara Pesantren Tegalsari dan Keraton Surakarta Hadiningrat yang terjalin sejak berabad-abad lalu.
Pesantren Tegalsari, yang didirikan dan diasuh oleh Kiai Ageng Muhammad Besari, dikenal sebagai pusat keilmuan dan kebudayaan Islam di tanah Jawa pada masa kejayaannya. Dari pesantren inilah lahir banyak tokoh besar yang turut berperan membentuk peradaban Jawa, di antaranya Raja Pakubuwono II yang pernah berguru langsung kepada Kiai Ageng Muhammad Besari, serta Raden Ngabehi Ronggowarsito, pujangga besar Keraton Surakarta yang juga merupakan salah satu santrinya.
Hubungan antara Tegalsari dan Keraton Surakarta tidak hanya sebatas dalam bidang keilmuan, tetapi juga terjalin melalui ikatan kekerabatan. Sejarah mencatat, Kiai Hasan Besari, cucu Kiai Ageng Muhammad Besari, menikah dengan Bra. Murtosyah, putri Pakubuwono III, sehingga mempererat jalinan silaturahmi antara dua pusat kebudayaan besar tersebut.
Warisan hubungan spiritual, intelektual, dan budaya ini menjadi bukti nyata bahwa Tegalsari memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah kerajaan Jawa. Dalam momen berpulangnya Sinuhun Pakubuwana XIII, masyarakat Tegalsari turut menyampaikan doa dan takzim, semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan tali persaudaraan antara ulama Tegalsari dan keluarga Keraton Surakarta senantiasa terjaga dalam harmoni dan penghormatan tradisi.